Aku tidak banyak tahu
tentangnya. Tapi, tahukah kalian mengapa aku begitu yakin bahwa itu adalah dia?
Jujur, aku tidak mengenalnya. Bahkan berbicara dengannya tidak pernah. Tapi aku
yakin kalau dialah yang aku lihat. Ah, aku tahu! Mungkin aku hanya terjebak
dalam bayang-bayang dirinya. Mungkin pikiranku telah diracun, jadi semua yang
aku lihat selalu terlihat seperti dia. Ah, aku benci bila sudah seperti ini.
Padahal, beberapa bulan
yang lalu, aku telah lupa pada dirinya. Ya, walaupun belum sepenuhnya aku
melupakannya. Entah, bagaimana bisa aku tidak bisa melupakannya. Padahal,
bicara dengannya saja tidak pernah. Barangkali aku hanya mengada-ada saja.
“Because maybe you’re
gonna be the one that save me. And after all you’re my wonderwall….” - Oasis
Mungkin aku memerlukan
seseorang untuk menyelamatkanku dari genggamannya, dari bayang-bayang dirinya.
Ya, aku memerlukannya. Tapi entah kenapa aku masih tidak bisa melepas
bayang-bayangnya. Dia seakan-akan seperti mencengkramku dengan sangat erat. Aku
benar-benar membutuhkan seseorang untuk membantuku melepas cengkramannya.
Namun kadang aku tidak
ingin dia hilang sepenuhnya dari hidupku. Lagi-lagi aku tidak tahu kenapa.
Jangan tanya aku! Dan kini aku menyukai waktu senja. Senja datang selalu
bersama dirinya. Ahhh…. Indah rasanya. Memandang dirinya walau dari jauh,
sungguh melegakan hati ketika mengetahui dia masih disini.
“Hati cemas bimbang,
harapan timbul tenggelam. Aduhai permata hati, mungkinkah kelak berjumpa
lagi….” - Sore
Cemas datang dikala
malam semakin larut. Khawatir menjadi lebih besar. Takut akan kehilangan si
manusia senja. Akankah aku dan dia bertemu lagi esok? Tidak ada yang tahu. Aku
tidak pernah berharap banyak, aku juga tidak pernah menggantungkan harapan
setinggi angkasa. Tapi aku hanya berharap semoga esok, aku masih bisa
memandangnya walau hanya punggungnya saja.
Jakarta, 5 April 2014
-A.F
