Di sebuah kamar di rumah sakit, terbaring lemah seorang
nenek tua mengerang kesakitan. Sepasang matanya membelalak menyeramkan hingga
menakuti orang-orang disekelilingnya. Aku, yang diutus Tuhan untuk
membebastugaskan dirinya dari dunia. Aku sih
berani-berani saja langsung mengambil ruh yang ada dalam dirinya. Namun aku
membiarkan anak-anak serta cucu-cucunya menangisi dirinya terlebih dahulu sambil
mengantar dirinya dalam jalan yang seharusnya.
*****
Seminggu sebelumnya, si nenek ini sudah kupantau. Kulihat
lekat-lekat dirinya yang sudah dibebani penyakit-penyakit yang perlahan
menggerogoti tubuh nenek 89 tahun ini. Wah! Maha baik Tuhan yang telah
memberinya umur sepanjang itu. Eits, bukan cuma-cuma Tuhan memberikan umur
sebegitu panjangnya, Ia juga ingin si nenek ini sekali lagi menyembah diri-Nya.
Hei, asal kalian tahu saja ya. Bukan berarti Tuhan memberi umur panjang,
berarti Ia sayang pada kalian. Bisa saja Ia memberi umur panjang karena ingin
kalian bertaubat, berhenti mengagungkan dunia, berhenti menjalankan nafsu
duniawi. Lihatlah! Maha baik Tuhan.
Si nenek sudah tidak ingat lagi siapa dirinya, siapa yang
mengelilinginya, dan siapa Tuhannya. Matanya mulai kosong, bicaranya sudah
kacau, tubuhnya panas dingin. Dibawalah si nenek ke rumah sakit oleh handai
taulannya.
*****
Si nenek ditempatkan di kamar kelas satu. Pelayanan terbaik
sudah diberikan, namun si nenek tetap sama. Parah. Berkali-kali Ia memanggil
nama Tuhannya. Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Si nenek sangat
jarang bahkan hampir tidak pernah mengagungkan nama Tuhannya selama ia sehat.
Jadi, apakah mungkin Tuhan ingin namanya disebut dan diagungkan oleh si nenek?
Siapa yang tahu? Ini urusan si nenek dengan Tuhannya.
Mulutnya meracau tidak jelas sambil menyebut Tuhannya. Aku
merasa inilah saatnya si nenek menemui Tuhan yang Maha Agung. Aku tidak lagi
memperdulikan tangis anak cucunya. Biarlah mereka menangis dan mendoakan si
nenek. Tugas ya tugas.
Aku menarik ruh perlahan-lahan dari ubun-ubunnya. Si nenek
tetap tidak tenang, mulutnya masih berkata-kata sembari memanggil Tuhannya. Ah,
sebegini sulitnya mengambil ruh si nenek. Ruh masih ingin menetap didunia.
Untuk apa?! Menunggu kiamat? Berbahagialah Tuhan sudah memanggilmu. Itu berarti
tujuan hidupmu semakin dekat wahai anak Adam. Aku tarik lagi ruhnya, kini sudah
sampai perut si nenek. Mulai perut hingga kaki mulai pucat dingin. Aku tarik
sekali lagi dan lepaslah ruh dari raga si nenek. Mereka menangis dan terus
mendoa.
*****
- A.F

No comments:
Post a Comment