Aku berjalan tanpa arah. Entah apa yang kucari, namun aku
terus berjalan. Hingga sampai suatu waktu ketika Tuhan mempertemukan aku dengan
kau.
Aku tenggelam dalam lautan kasihmu. Aku terlena hingga aku
tak sadar apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang aku tahu, kau dan aku saling
menyukai.
Aku mungkin terlalu menyukaimu. Kau pun merasa begitu.
Sampai orang-orang diluar sana berkata mungkin kita sedang terlena dengan
cinta. Mungkin karena kita saling mencintai, terlalu mengasihi, aku menjadi
mabuk. Aku kehilangan kesadaranku. Aku tak sadar sedang apa kita, aku tak sadar
sedang dimana kita, sama sekali tidak. Yang aku tahu, kini kau telah tertidur
di pangkuanku. Aku membelai wajahmu. Dingin… wajahmu pucat.
Lama aku berusaha untuk mengerti apa yang sedang terjadi.
Wajahmu semakin memucat ketika aku mulai menyadari telah banyak darah
disekeliling kau dan aku. Ah… aku ingat! Aku telah menembak mati ragamu. Aku
tahu kini mengapa tubuhmu menjadi dingin, dan semakin dingin. Aku telah
melepaskan timah panas menuju jantungmu.
Tanganku gemetar…..
Jakarta,
A.F

No comments:
Post a Comment