Srikandi sering menutup telinganya belakangan ini. Seakan ia
tak mau mendengar apapun. Srikandi memang tidak begitu suka dengan keadaan
sekarang ini. Begitu buruk, kelam, dan gelap. Namun sesering ia tutup
telinganya, masih saja terdengar suara samar-samar. Suara yang tidak ingin ia
dengar.
Kini Srikandi juga lebih sering berdiam diri di kamar
tidurnya. Berharap suara-suara itu tidak menghampirinya. Namun apa daya, makin
lari Srikandi, makin mendekat pula suara-suara sialan itu. Brengsek! Malah,
Srikandi hampir gila dibuatnya. Seisi rumah menjadi bingung karena Srikandi
lebih sering menyendiri dan lebih sering berteriak. Seisi rumah mengira
Srikandi sudah gila. Padahal Srikandi mengaku ia tidak gila.
Asal kalian tahu, ya. Dulu, dulu sekali Srikandi anak yang
ceria, senang bergaul, tentu temannya banyak. Namun seiring berjalannya waktu,
Srikandi lebih sering menyendiri. Kadang pula Srikandi bertingkah sangat
menyebalkan. Itulah sebabnya, ia merasa sendiri walaupun banyak teman yang
mengelilinginya. Srikandi juga sering berpikiran negatif tentang dirinya. Ya,
Srikandi makin menyebalkan dari waktu ke waktu.
Srikandi, oh Srikandi. Ada apa denganmu? Keceriaanmu makin
pudar dari hari ke hari. Kau lebih senang menyendiri, menertawakan nasib diri
sendiri, dan melakukan hal-hal yang dianggap gila oleh sebagian orang. Apa kau
sedang mencari jati dirimu, wahai Srikandi? Jangan tutup telingamu lagi,
Srikandi.
Jakarta,
-A.F

No comments:
Post a Comment