Tuesday, March 11, 2014

KALUT



Kukira aku sudah menghapusnya dari ingatan lamaku. Namun ternyata tidak, ingatan itu kembali merekah bagai bunga yang akan bemekaran. Ah… kenapa dia muncul disaat aku tidak mengharapkannya lagi? Tuhan memang suka mengajakku bercanda.

Aku bertemu dengannya di persimpangan jalan ini kemarin malam. Ya, kemarin malam dan hingga sore ini aku masih terbayang wajahnya. Ada apa denganku? Aku sudah berhasil melepasnya dari pikiranku dan tiba-tiba takdir ini mempertemukan kita lagi. Pikiranku kembali mengelana menuju masa lalu. Masa dimana ia masih memanggil namaku dengan indah.

“There are a lot of people who call you by your name. But there’s only one person who can make it sound so damn special.”

Ya, kata-kata yang secara tidak sengaja aku temui di situs pencari beberapa tahun lalu kembali teringat juga. Kira-kira seperti itulah perasaanku bila ia memanggil namaku.

Sebenarnya aku tidak tahu harus seperti apa bila kembali bertemu denganmu. Apa aku harus menyapamu? Menunjukkan wajah bahagia? Apa aku harus sedih? Atau haruskah aku kembali merasakan pedih yang sama seperti setahun lalu? Aku tidak tahu. Aku hanya melihatmu dan aku tidak berani menyapamu. Takut-takut kau sudah tak lagi sendiri.

Tapi apakah ini takdir? Apakah ini takdir bahwa sebenarnya kami ditakdirkan bersama, atau hanya takdir bahwa memang aku harus kembali merasakan sakit seperti dulu? Ahh.. Tuhan. Aku tidak mengerti apa maumu. Jikalau memang dia bukan untukku, sudahlah. Jangan Kau pertemukan aku lagi dengannya.

“Malam jadi saksinya, kita berdua diantara kata yang tak terucap “

Ya, malam itu. Dipersimpangan jalan ini, kami berdua saling bertemu dan saling tidak menyapa. Walau aku tahu kau ingin mengucapkan sesuatu padaku. Aku dan dia bertemu dipersimpangan jalan ini dan kami tidak saling berkata-kata. Ia membiarkan sepatah katapun keluar dari mulutnya. Begitu juga aku.

Dan sampai saat ini, aku tidak bisa mengalihkan wajahnya dari kepalaku. Aku tidak bisa melupakan bagaimana cara dia berjalan, cara dia memanggil namaku, cara dia tersenyum padaku. Tanganku masih gemetar apabila mengingat wajahnya kemarin malam. Bibirku beku apabila mengucapkan namanya. Dan itu terjadi hingga saat ini, di tempat aku berdiri, di persimpangan jalan ini.

Jakarta,
-A.F

No comments:

Post a Comment

* Popular Posts *

Annissa Fadillah

My photo
Musics Movies Expensive Imaginations

With peace and love

A N N I S S A F A D I L L A H