Kukira aku sudah menghapusnya dari ingatan lamaku. Namun
ternyata tidak, ingatan itu kembali merekah bagai bunga yang akan bemekaran.
Ah… kenapa dia muncul disaat aku tidak mengharapkannya lagi? Tuhan memang suka
mengajakku bercanda.
Aku bertemu dengannya di persimpangan jalan ini kemarin
malam. Ya, kemarin malam dan hingga sore ini aku masih terbayang wajahnya. Ada
apa denganku? Aku sudah berhasil melepasnya dari pikiranku dan tiba-tiba takdir
ini mempertemukan kita lagi. Pikiranku kembali mengelana menuju masa lalu. Masa
dimana ia masih memanggil namaku dengan indah.
“There are a lot of people who
call you by your name. But there’s only one person who can make it sound so
damn special.”
Ya, kata-kata yang secara tidak sengaja aku temui di situs pencari
beberapa tahun lalu kembali teringat juga. Kira-kira seperti itulah perasaanku
bila ia memanggil namaku.
Sebenarnya aku tidak tahu harus seperti apa bila kembali
bertemu denganmu. Apa aku harus menyapamu? Menunjukkan wajah bahagia? Apa aku
harus sedih? Atau haruskah aku kembali merasakan pedih yang sama seperti
setahun lalu? Aku tidak tahu. Aku hanya melihatmu dan aku tidak berani
menyapamu. Takut-takut kau sudah tak lagi sendiri.
Tapi apakah ini takdir? Apakah ini takdir bahwa sebenarnya
kami ditakdirkan bersama, atau hanya takdir bahwa memang aku harus kembali
merasakan sakit seperti dulu? Ahh.. Tuhan. Aku tidak mengerti apa maumu. Jikalau
memang dia bukan untukku, sudahlah. Jangan Kau pertemukan aku lagi dengannya.
“Malam jadi saksinya, kita berdua
diantara kata yang tak terucap “
Ya, malam itu. Dipersimpangan jalan ini, kami berdua saling
bertemu dan saling tidak menyapa. Walau aku tahu kau ingin mengucapkan sesuatu
padaku. Aku dan dia bertemu dipersimpangan jalan ini dan kami tidak saling berkata-kata.
Ia membiarkan sepatah katapun keluar dari mulutnya. Begitu juga aku.
Dan sampai saat ini, aku tidak bisa mengalihkan wajahnya
dari kepalaku. Aku tidak bisa melupakan bagaimana cara dia berjalan, cara dia
memanggil namaku, cara dia tersenyum padaku. Tanganku masih gemetar apabila
mengingat wajahnya kemarin malam. Bibirku beku apabila mengucapkan namanya. Dan
itu terjadi hingga saat ini, di tempat aku berdiri, di persimpangan jalan ini.
Jakarta,
-A.F

No comments:
Post a Comment